BALIKPAPAN-Setelah menjaring 30 sekolah dan pondok pesantren (Ponpes) dalam kota dan Penajam Paser Utara (PPU) untuk berperan mengendalikan inflasi lewat budidaya cabai dengan metode organik menggunakan polybag bertitel Sekolah Peduli Inflasi (SPI) 2017 yang digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI), akhir pekan kemarin puluhan peserta dibekali pelatihan yang digelar di KPw BI. "Pelatihan meliputi (langkah-langkah) mempersiapkan media tanam dilanjutkan penyemaian, pemeliharaan dan pengendalian hama," kata
Manager Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Andi Adityaning Palupi di sela aktivitas, kemarin. SPI merupakan ajang untuk membangun pondasi edukasi inflasi melalui gerakan menanam secara mandiri yang dimulai dari lingkungan sekolah agar tercipta kebiasan dalam diri peserta untuk berperan mengendalikan inflasi. Selanjutnya diharapkan, kemampuan tersebut dapat ditularkan kepada masyarakat luas.

Adapun cabai dipilih karena menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.  Permintaannya yang tidak berbanding lurus jumlah pasokan yang jadi pemicunya. Apalagi sebagian besar kebutuhan cabai  masih dipenuhi pasokan luar daerah. Sehingga penting untuk melakukan budidaya agar masyarakat tidak tergantung kebutuhan pasokan pasar.

Tercatat, peserta terdiri 20 SMP dan 5 ponpes di dalam kota serta 5 SMA asal PPU. Sementara pelatih dan pendamping yang mengawal kegiatan kelak merupakan petani. 5 pelatih dan pendamping dari Balikpapan dan 3 orang lainnya asal PPU.

Dalam SPI 2017, masing-masing sekolah diwajibkan menaman cabai minimal 800 polybag dengan target produksi minimal 15 Kg selama program bergulir. "Karena kami tidak mau memberatkan sekolah maka target yang kami patok juga tidak terlalu besar. Agar program ini mengganggu aktivitas belajar mengajar," celetuknya.

Sebagai bekal, tiap sekolah mendapat bantuan untuk belanja sarana sebesar Rp11 jutaan. Program budidaya pun akan dimulai 24 April mendatang dan berakhir Agustus mendatang. "Peserta dengan hasil panen lebih banyak tentu menjadi juaranya. ," serunya.

Selain bantuan tersebut juga pelatihan dan pendampingan, peserta juga akan ditempa dengan pengetahuan kewirausahaan menggunakan aplikasi Sistem Administrasi Pencatatan Keuangan (Siapik) melalui sistem operasi Android.

Untuk diketahui, budidaya cabai sudah digalakkan BI sejak tahun 2012 dengan sasaran ibu rumah tangga yang dikenal dengan gerakan masyarakat menanam cabai. Tahun 2015 sasaran meluas hingga ke sekolah-sekolah dengan harapan dapat menjadi agen perubahan dan kegiatan menanam secara mandiri dapat ditularkan di lingkungan sekitar. (dra/san)