BALIKPAPAN- Duka mendalam masih dirasakan Kamarudin dan Siti Maryam beserta keluarganya, lantaran putra terakhirnya harus tewas dengan cara yang tidak wajar. Bahkan sudah enam bulan berlalu keadilan pun belum dirasakan oleh pihak keluarga almarhum Brigadir Polisi Dua (Bripda) Budi Setiawan.

Kedua orangtua almarhum sudah ikhlas merelakan kepergian putranya. Akan tetapi keadilan tetap harus ditegakkan. Agar kasus serupa tidak lagi menimpa yang lain. "Saya minta keadilan saja, yang salah tetap salah, diproses secara hukum," ujar Kamarudin dan Siti Maryam saat dijumpai Balikpapan Pos di kediamannya, Sabtu (7/12) lalu.

Mereka menyebut, setelah kembali diperjuangkan keadilan untuk anak mereka, beberapa orang mendatangi dan mengajak untuk berdamai. Akan tetapi pihak keluarga menolak, lantaran sejak awal kejadian tidak ada itikad baik dari para pelakunya.

"Kami menolak, tetap diproses hukum," tegas Kamarudin.

Mereka tidak menyangka, jika akhirnya Budi Setiawan yang telah dibanggakan menjadi seorang abdi negara, harus pergi dengan cara seperti itu. Dia berharap Kapolresta Balikpapan yang baru dan Kapolda Kaltim yang baru bisa mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan anaknya, hingga memproses semua sesuai hukum.

"Jika tidak ada keadilan juga, kami berencana melapor ke Mabes Polri. Semua ini demi keadilan anak kami," bebernya.

Di mata orangtuanya, Budi dikenal pendiam. Pria kelahiran Balikpapan, 14 Desember 1997 ini tidak pernah neko-neko. "Sifatnya itu pendiam, tidak merokok, juga tidak pernah neko-neko," ucap Kamarudin.

Saat masih sekolah, Budi cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan olahraga, salah satunya sepakbola hingga menembus tingkat provinsi. "Kehidupan almarhum itu dulu atlet sepakbola, sempat ikut kompetisi sampai tingkat provinsi," katanya.

Salah satu pelatih sepakbola Balikpapan yang tidak ingin disebutkan namanya membenarkan kalau Budi Setiawan memang pernah membela Balikpapan di ajang Piala Suratin tingkat provinsi. Budi menempa ilmu sepakbola di SSB Beriman Persiba. Juga pernah membawa tim sepakbola SMAN 6 menembus final Liga Pendidikan Indonesia (LPI) 2014 di Stadion Sudirman.

Siti Maryam menceritakan, Budi sebelum meninggal dunia sedang menempuh pendidikan di Universitas Balikpapan (Uniba) dengan mengambil jurusan hukum.

Diketahui Budi memulai sekolah di SD Patra Darma, kemudian SMP Patra Darma 1, dan SMA Negeri 6 Balikpapan. Setelah lulus tahun 2015, Budi langsung mendaftar untuk masuk polisi. Hingga akhirnya dia lulus pendidikan menjadi polisi di tahun 2016.

"Tugas pertama dia di Polres Malinau selama satu tahun," papar Siti dengan mata yang berkaca-kaca.

Kemudian di tahun 2018, Budi ditarik ke Polda Kaltim. Selama sembilan bulan di Polda, Budi dipindahkan ke Polresta Balikpapan, tepatnya di Satuan Sabhara di tahun 2019.

"Belum lama di polres itu, kejadian seperti ini, padahal anak kami ini pendiam tidak suka neko-neko," ucapnya.

Namun, semua telah terjadi. Meski pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian almarhum, akan tetapi mereka tetap menuntut keadilan dan kebenaran penyebab anaknya meregang nyawa.

Diberitakan sebelumnya, setelah 6 bulan dimakamkan, pihak keluarga Bripda Budi Setiawan meminta makam anaknya dibongkar untuk dilakukan otopsi, karena merasa ada yang janggal atas kematian anaknya. Saat itu pada 16 Mei 2019 sore hari putranya diantar pulang oleh sejumlah anggota polisi dalam kondisi babak belur di sekujur tubuhnya.

"Kejadian itu tanggal 16 Mei 2019, diantar pulang oleh beberapa polisi, kondisi Budi sudah lebam-lebam wajahnya, kemudian dirawat di rumah saki,t meninggalnya tanggal 19 Mei 2019," ulas Kamarudin.

Kamarudin bingung atas apa yang menimpa putranya, karena tak ada penyampaian penyebab putranya babak belur. Selain itu sejak awal kejadian tidak ada itikad baik dari para pelaku jika memang anaknya dianiaya.

Untuk itu, pada Kamis (5/12) lalu makam Budi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Km 0,5 Balikpapan Utara dibongkar untuk diotopsi di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD), kemudian pada sore harinya dimakamkan kembali.

Pihak keluarga mendapat penyampaian dari pihak RSKD bahwa hasil otopsi akan keluar tujuh hari setelah otopsi.

Terpisah, saat dikonfirmasi terkait hal ini, Kapolresta Balikpapan AKBP Turmudi menjelaskan, jika memang ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan maka pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada hukum yang berlaku.

"Sesuai prosedur kan dari pihak keluarga meminta diotopsi, jadi kami lakukan. Jika memang ditemukan ada yang diduga, ya sepenuhnya kita ikuti hukum yang ada," ujar Turmudi, beberapa hari lalu. (pri/cal)