Mewabahnya Covid-19 yang terus meningkat membuat kekhawatiran masyarakat. Terutama orang yang mempunyai komorbiditas atau orang yang sudah memiliki penyakit penyerta yang dapat memperparah kondisinya, salah satunya pengidap asma.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencantumkan asma, diabetes dan penyakit jantung, sebagai kondisi yang membuat seseorang lebih berisiko menjadi sakit parah akibat virus Corona. “Di masa pandemi Covid-19 ini, sangat penting untuk pasien menggunakan obat pengontrol, karena kalau tidak terkontrol ketika terkena Covid-19 risikonya menjadi jauh lebih besar.

Jangan takut untuk berobat yang penting adalah kita selalu menerapkan protokol kesehatan,” kata dr Elies Putriani, Sp. P dalam program Interactive Healthy Care yang dipersembahkan oleh Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), Rabu (5/5). Menurutnya, Asma merupakan penyakit yang cukup berbahaya karena bisa menyebabkan pasien gagal nafas dan paling parah bisa menyebabkan kematian.

Ia menjelaskan, asma adalah penyakit yang heterogen, kenapa disebut heterogen karena banyak yang menyebabkan asma muncul di pagi hari, malam hari atau juga karena dingin. Salah satu gejalanya adalah mengi atau napas berbunyi, batuk yang tidak sembuh-sembuh, atau frekuensi nafasnya yang berubah dari kondisi sebelumnya.

Kadang-kadang ada pasien yang merasa bahwa dirinya tidak kena penyakit asma karena memang tidak punya keturunan asma, dan ini memang paling sering terjadi.

Salah satu yang harus digarisbawahi adalah bahwa asma itu memang dapat diturunkan dari neneknya, ibu ataupun bapaknya yang memang sebelumnya memiliki asma. Tapi seseorang bisa terkena asma meski tidak diturunkan. Ada beberapa faktor eksternal yang menjadi penyebab seseorang terkena asma meski tidak ada keturunan, misalnya seseorang terkena asma karena kondisi pekerjaan yang berdebu, karena obesitas. “Bisa banyak faktor. Makanya penyakit asma dibilang heterogen,” terangnya.

Ketika ada pertanyaan dari pasien, apakah asma ini bisa disembuhkan? Dia menjawab, asma ini memang tidak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol. Bahkan ketika terkontrol penuh, pasien yang bersangkutan bisa tidak lagi harus selalu menggunakan obat-obatan terus menerus.
“Jangan takut bahwa obat asma itu tidak menimbulkan ketergantungan, kita harus berwaspada bukan hanya menggunakan obat pelega saja, tapi juga harus menggunakan obat pengontrol ketika asma,” terangnya. (MAULANA/KPFM)