SEIRING berjalannya waktu, pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus terus bergerak, tapi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes). Tak hanya penggunaan masker, hasil tes negatif Covid-19 juga kerap digunakan sebagai salah satu persyaratan. Tujuannya, untuk mengetahui dirinya terpapar Covid-19 atau tidak.

Dokter Spesialis THT dr Denny Rizaldi Arianto Sp THT-KL menerangkan bahwa sebenarnya, tes swab itu baik dilaksanakan jika seseorang terdapat gejala (keluhan). Misalnya, badan panas/febris, pilek, buntu hidung, batuk, sakit tenggorokan, diare, dan Anosmia. Atau, sebagai syarat kebutuhan. Misalnya, untuk syarat bepergian. Jadi, harus menujukkan hasil tes swab. Jika ikut fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes), biasanya ada aturan bahwa hasil swab berlaku maksimal 3 hari.

Menurut dr Denny, sekarang yang dianjurkan minimal tes swab antigen. Sementara itu, standarnya tes swab PCR Nasofaring. Namun, dia menyatakan bahwa banyak juga yang sudah beredar bahwa orang menggunakan tes swab antigen secara mandiri. “Yang harus diwaspadai itu, jika seseorang memiliki keluhan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dalam hal ini, biasanya terjadi pada orang yang memiliki gangguan kerap mimisan dan hidung tersumbat. Jadi, dipastikan lebih dulu. Kemungkinan ada suatu penyakit tertentu atau tumor. “Tentunya, jika punya keluhan, tidak bisa langsung main sogrok,” terangnya. Karena itu, masyarakat harus hati-hati sebelum melaksanakan swab mandiri.

Selanjutnya, masyarakat juga diharapkan kooperatif saat melaksanakan swab. Artinya, saat alat swab dimasukkan ke dalam lubang hidung, harus yakin dan tidak banyak bergerak. “Dikhawatirkan, ujung alat swab bisa putus di dalam,” lanjutnya. Akibatnya, malah bisa melukai nasofaring alias rongga dalam hidung yang rawan jika terluka. Meski jarang terjadi, lanjutnya, tetap perlu kewaspadaan bersama agar hal itu tidak sampai terjadi.

Hal itu juga bisa terjadi jika seseorang terlalu sering melakukan swab. Misalnya, sehari sekali untuk kebutuhan suatu kegiatan rutin. “Jika memang untuk mengetahui penularan Covid-19, saya kira virus itu tidak akan langsung menulari seseorang,” paparnya. Sebab, memerlukan waktu inkubasi dan bergantung imunitas seseorang yang beragam.

Karena itu, dia menyarankan agar seseorang selektif dalam melakukan tes swab. “Jadi, ndak mungkin disogrok setiap hari,” terangnya. Terlebih, dia menegaskan bahwa tes swab setiap hari juga tidak efektif. “Lebih baik, sesuai kebutuhan saja,” pungkasnya.

Terpisah, salah seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 dr Angga Mardro Raharjo membenarkan hal itu. Sebenarnya, tes swab itu dilakukan untuk kebutuhan tracing dan testing. “Misalnya, ada yang bergejala atau pernah ada kontak erat dengan pasien Covid-19,” ujarnya. Namun, pada umumnya, dia menjelaskan bahwa virus dalam pasien itu bisa terindikasi sekitar hari kelima penularan. Jadi, baik dilakukan tracing pada saat itu.

“Namun, saya tidak menyarankan melakukan tes swab setiap hari karena tidak efektif, kalau untuk persyaratan malah lebih baik menggunakan bukti vaksinasi,” paparnya. Jadi, meski terpapar, tidak memperburuk keadaan. Terlebih, dia menegaskan bahwa vaksinasi saja tidak cukup, tapi penerapan prokes juga harus ketat. (jpg)