Dugaan kasus praktik jual beli vaksin Covid-19 yang ditemukan oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan belum lama ini masih belum menemui titik terang. Terutama terkait siapa oknum di balik kasus tersebut. Perihal itu, Kasat Reskrim Polresta Balikpapan Kompol Rengga Puspo Saputro belum banyak berkomentar. Hanya saja, dia membenarkan sudah ada pengaduan masuk dari Dinas Kesehatan Kota.

“Benar, sudah ada pengaduan masuk dari Dinas Kesehatan Balikpapan,” kata Kompol Rengga melalui sambungan seluler, Jumat (17/9).

Menindaklanjuti pengaduan tersebut, lanjut Kompol Rengga, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. “Saat ini masih kita lakukan penyelidikan, benar apa tidaknya,” ungkap Kompol Rengga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Andi Sri Juliarty juga membenarkan bahwa dugaan praktik jual beli vaksin itu sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian. “Kasus itu sudah kami laporkan ke kepolisian,” akunya.
Sejumlah bukti juga dilampirkan dalam laporan ke Polresta Balikpapan. Mulai dari formulir pendaftaran vaksin hingga rekaman video dari masyarakat yang ingin mendaftar.

“Saat ini sudah ada 30 orang yang jadi korban kasus ini. Tapi kami belum tahu apakah mereka sudah membayar atau belum, begitu juga apakah mereka sudah divaksin atau belum. Kami serahkan ke kepolisian untuk mendalami,” ucap wanita yang akrab disapa Dio itu.

Selain Dinas Kesehatan, Muhammadiyah, sebagai penyelenggara vaksinasi juga akan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. “Mereka juga pihak yang dirugikan karena namamya dicatut dalam formulir,” tuturnya.
Dio memastikan vaksinasi yang digelar oleh pemerintah dan instansi-instansi terkait lainnya tidak memungut biaya sepeserpun. “Tidak ada biaya, apalagi pelaksanaannya di sentra vaksinasi BSCC Dome. Kan pengunaan gedung juga gratis,” tandasnya. (Fredy Janu/Kpfm)