Sebuah rumah di RT 39 Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan milik Neti Jat menjadi korban longsoran tanah akibat hujan yang terjadi satu minggu yang lalu, yaitu pada hari Jumat (10/9) waktu Subuh.  Tanah dan lumpur masuk dan menimbun rumah Neti hingga lantainya jebol.

"Kejadian longsor Jumat lalu, pas seminggu hari ini. Jumat itu Subuh, tiba-tiba longsor di belakang rumah. Pas di belakang tembok sebelah sana itu," kata Neti Jat kepada Balikpapan Pos.

Neti menjelaskan longsor terjadi dua kali yaitu Jumat Subuh, dan pada hari Minggu waktu Subuh juga. Setelah itu dirinya melaporkan kejadian tersebut ke RT setempat dan juga menghubungi pemilik tanah yang longsor.

"Alhamdulillah Pak RT langsung sigap, langsung ke kelurahan. Langsung datang juga pak lurah hari Minggu itu. Ada  Babinsa, Bhabinkamtibmas,   ada Pak Camat. Alhamdulillah kami ditengok," imbuhnya.

Namun Neti masih merasa sangat sedih dan ingin menangis jika melihat kejadian rumahnya. Dirinya hanya berharap dapat bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya yang rusak parah. "Rumah kami posisinya masih begini aja, masih nunggu-nunggu saja. Nunggu sudah kering tanahnya, baru nanti kaya apa tindaklanjutnya kita masih belum tahu juga," jelasnya dengan nada sedih.

Dari pantauan Balikpapan Pos, kondisi rumah Neti memang rusak parah. Bagian dalam lantainya amblas dan penuh lumpur. Di bagian luar juga penuh tanah dari longsoran belakang rumahnya. Keluarga Neti terpaksa mengungsi ke tempat lain karena rumahnya tidak bisa ditempati. Selain itu Neti dan keluarganya takut terjadi longsor  susulan apabila turun hujan deras. “Belakang rumah saya tanahnya labil. Kalau hujan deras dikhawatirkan terjadi longsor susulan,” pungkasnya. 

Sementara itu Lurah Sepinggan Bambang saat di hubungi menyampaikan pihaknya saat kejadian langsung turun ke lokasi bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, Camat, BPBD Kota Balikpapan serta Dinas PU Balikpapan untuk meninjau lokasi.

Rencananya dari Dinas PU akan membantu menangani tanah yang longsor untuk diangkut. Namun masih menunggu kondisi tanahnya agak kering terlebih dahulu. "Upaya yang dilakukan masyarakat langsung gotong royong membersihkan tanah. Kemudian kita berikan bantuan konsumsi,  dari pemerintah bantu terpal, kemudian kita laporkan ke PU untuk mengambil sedimennya itu," jelasnya.

Adapun volume tanah cukup banyak, pihaknya masih menunggu tanahnya kering dan nantinya akan ditangani Dinas PU. Dan masih mengusahakan bantuan lain untuk korban dari pemerintah. Untuk saat ini Neti dan keluarganya yang berjumlah 5 orang mengungsi di rumah saudaranya yang ada di Gunung Bakaran. Suaminya ketika malam hari menunggu rumahnya, namun menunggu di luar rumah dengan atap terpal. (jam/ono)