Setelah pintu tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) yang terletak di Jalan Soekarno Hatta Km 13, Karang Joang, Balikpapan Utara dibuka pendapatan penjual buah di Km 22 mengalami penurunan omzet. Padahal buat yang dijual di Km 22 merupakan buah segar yang langsung diambil dari petani di sekitar daerah tersebut. Seperti buah mangga, cempedak, naga, pepaya dan lain-lain.

Salah satu pedagang buah km 22 bernama Sabaria mengatakan, pendapatan atau omzet tidak seperti biasanya, karena banyak pengendara dari arah kota Balikpapan maupun dari kota Samarinda, memilih melalui jalan tol. Pasalnya sebelum Tol Km 13 diresmikan banyak pengendara mampir untuk membeli buah sebagai camilan di perjalanan.

"Bukan saya saja yang mengeluh karena sepi pembeli, tapi teman-teman penjual buah di sini juga banyak yang mengeluh, sebab dagangan buahnya tidak terjual. Namun bukan hanya di bukanya jalur Tol Km 13 yang membuat sepi pembeli melainkan akibat pandemi Covid-19," katanya kepada Balikpapan Pos, Rabu (3/11).

Ia menjelaskan, sebelum Tol Km 13 di buka pendapatan hasil dari jualan buah sebesar Rp 300 ribu perhari, tapi kalau sekarang paling besar sebesar Rp 70 ribu perhari. Belum lagi modalnya setiap hari. Kalau buah tidak laku kita buang, jadi kita menjadi rugi.

Dia menuturkan, buah yang dijual di sini merupakan hasil kebun dari warga sekitar, yang kita beli. Seperti salak pepaya dan lain-lain. Tapi kalau mangga kita ambil dari luar Balikpapan. Jadi mau tidak mau kita harus bersabar, karena dari hasil ini lah kita bisa menghidupi anak-anak, karena saya sudah tidak memiliki suami.

"Saya berharap bisa memiliki warung sendiri, karena warung yang saya tempati sekarang ini saya sewa, sebab kalau saya tidak dapat pembeli mau bayar pakai apa, sedangkan sewa warung ini sebesar Rp 400.000 selama satu bulan," harapnya. (djo/vie)