Selama pandemi Covid-19, jumlah anak jalanan yang beroperasi di beberapa simpangan lampu merah dan fasilitas publik lainnya di Kota Balikpapan terus meningkat.

Hal ini tentunya membutuhkan sikap tegas aparat terkait karena keberadaan anak jalan ini dinilai sangat meresahkan masyarakat dan membahayakan pengguna jalan bermotor.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Balikpapan Zulkifli mengatakan, pihaknya telah beberapa kali melakukan upaya penertiban, namun selalu muncul kembali.

“Ini menjadi kelemahan kita, ketika kita tertibkan, kita tangkap, kita serahkan ke dinas sosial kemudian ke orangtuanya. Besok muncul lagi,” kata pria yang akrab disapa Zul ini kepada wartawan, Kamis (11/11).

Masih terus muncul anak jalanan ini, menurut Zul, disebabkan oleh tidak adanya fasilitas rumah singgah permanen yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Balikpapan, dalam memberikan pembinaan kepada anak jalanan yang terjaring dalam kegiatan penertiban.

Ia menerangkan bahwa keberadaan rumah singgah ini sangat penting, karena sangat bermanfaat dalam memberikan pembinaan kepada anak jalanan yang terjaring serta memberikan pengajaran, keterampilan dan pemahaman agar tidak kembali ke jalan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menjelaskan, untuk saat ini pihaknya tengah menyiapkan personel PSJ (Penjaga Simpang Jalan) untuk melakukan penertiban kepada anjal yang berada di setiap simpang lampu merah yang ada Kota Balikpapan.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan kerjasama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan untuk memberikan pengumuman dengan pengeras suara yang berada di setiap lampu merah kepada para anjal yang berada di simpang lampu merah. “Selama pandemi Covid-19 ini jumlah anjal juga semakin banyak. Bukan hanya itu, anak-anak dan orang dewasa juga banyak yang berjualan tisu di simpang lampu merah. Jika dilihat anjal tersebut juga banyak dari luar daerah. Tapi juga banyak warga kota Balikpapan,” pungkasnya. (MAULANA/KPFM)