Bank Indonesia mencatat peredaran uang palsu sepanjang tahun 2021 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh meningkatnya transaksi digital di tengah pembatasan kegiatan masyarakat pandemi Covid-19. Kepala Seksi Pengelolaan Uang Rupiah BI Balikpapan Dharma Mulya mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima hingga akhir tahun ini, tercatat ada sekitar 300 temuan kasus uang palsu.

“Tahun lalu, 395 lembar, untuk tahun ini, ada sekitar 300an, jadi menurun,” kata Dharma kepada wartawan usai kegiatan Gathering Media di Hotel Platinum Balikpapan, Selasa (8/12). Ia menerangkan bahwa penurunan peredaran uang palsu dipicu oleh meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang ciri-ciri uang palsu.

Sehingga masyarakat sudah bisa terhindar dari upaya tindakan pemalsuan uang palsu. “Faktor-faktor bisa terjadi dari berbagai kemungkinan, bisa jadi masyarakat mungkin sudah mengerti bagaimana mengenali uang palsu. Sehingga masyarakat sudah terhindar dari upaya pemalsuan uang,” ujarnya.

Selain itu, tingkat pemalsuan uang palsu yang masih rendah sehingga kondisi fisik uang palsu yang berdasarkan lebih mudah dikenali. Ia menerangkan bahwa pihaknya tidak bisa menyebutkan secara rinci berapa nominal uang palsu yang sudah berhasil diamankan, namun dari hasil temuan paling banyak berupa pecahan uang Rp 100 ribu, Rp 50 ribu dan ada beberapa pecahan Rp 20 ribu.

“Nominal kita tidak bisa sebutkan yang penting ini uang palsu, tapi biasanya pecahan besar Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, ada juga Rp 20 ribu. Karena tingkat pemalsuannya rendah, jadi mudah dikenali,” pungkasnya. (MAULANA/KPFM)