Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) meminta kelonggaran batasan jam operasional kendaraan bertonase berat. Hal itu sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota Balikpapan, untuk truk dengan ukuran 10 roda ke atas hanya diperbolehkan melintas  mulai pukul 22.00 Wita  sampai pukul 05.00 Wita, untuk masuk ke dalam kota.

Kebijakan ini dibuat menyusul tragedi maut kecelakaan lalulintas (lakalantas) di kawasan Muara Rapak, yang melibatkan kendaraan bertonase besar, dan menyebabkan korban jiwa.

Ketua Aptrindo Kota Balikpapan, H Ibrahim mengatakan, pihaknya siap mengikuti aturan pembatasan tersebut. Namun dalam perjalanannya, kebijakan tersebut membuat para pengemudi truk kesulitan mengisi bahan bakar minyak (BBM).

Ia menjelaskan, para pengemudi  harus menunggu jam 22.00 Wita  untuk mengisi solar untuk angkutannya sebab ketika sudah mengantri di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) truk yang baru saja mengisi BBM tidak bisa kembali ke pool, sehingga harus menunggu pukul 20.00 Wita baru bisa jalan.

"Mau dibilang berat bagi kami, ini berat tapi ini kan keputusan pemerintah. Kita akan mengikuti aturan-aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah," katanya kepada awak media, Jumat (18/2).

Untuk itu, pihaknya saat ini tengah berusaha bagaimana menyikapi permasalahan ini, diantaranya dengan berkoordinasi dengan instansi terkait yakni Dinas Perhubungan (Dishub) bagaimana bisa membantu dalam memberikan toleransi kepada pengemudi truk.

Dia mengatakan, hal ini diusulkan untuk kendaraan truk yang sedang kosong atau tanpa muatan untuk diberikan kelonggaran mengisi BBM di luar batas waktu yang telah ditetapkan.

"Dengan aturan ini kita berusaha melakukan negosiasi, dengan memperbaiki diri dari segi angkutan, termasuk melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait," terangnya.

Diakuinya aturan ini bisa menimbulkan dampak yang lebih baik. Untuk itu, pihaknya masih menunggu diberikan kelonggaran oleh pemerintah kota terutama dalam pengisian BBM. (djo/vie)