Kasus pemukulan yang dilakukan oleh WNA Korea Selatan (Korsel)  atas nama Mr Park terhadap pekerja perempuan Yunita di proyek RDMP Balikpapan  sudah berakhir secara kekeluargaan. Yunita dan pelaku WNA Korsel memilih berdamai dan menghentikan proses hukum ke pengadilan. Sedangkan Mr Park sendiri sudah dipecat atau di-PHK.

Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum PT DAEH  tempat Mr Park bekerja,  Agus Amri pada Minggu (27/3). "Kami ingin menjelaskan beberapa hal yang saat ini jadi sorotan terkait dengan adanya isu tindakan kekerasan dari salah satu karyawan DAEH," katanya.

Lebih lanjut, Amri menegaskan atas kejadian tersebut bahwa dari pihak manajemen mengambil langkah tegas terhadap Mr Park dengan menjatuhkan sanksi tegas PHK. Dan berharap permasalahan serupa tidak akan terjadi lagi.

"Yang jelas pada hari itu juga antara Mr Park dengan Yunita telah ada perdamaian dan itu diadakannya di kantor polres," imbuhnya.

Amri juga jelaskan, bahwa laporan Yunita terhadap Mr  Park di Polresta Balikpapan  sudah dicabut. Namun Amri sampaikan ada seseorang yang diduga mengaku dipukul di rumah Yunita pada saat sebelum melakukan pencabutan laporan di Polres.

"Sekali lagi kami nyatakan bahwa itu sebenarnya sepenuhnya itu tidak benar, tidak ada pemukulan, tidak ada pengeroyokan, tidak ada orang atau kepala yang dibenturkan didinding," jelasnya.

Lebih lanjut dirinya berharap kepada siapapun untuk bisa memberikan keterangan yang benar atas kasus tersebut kepada masyarakat, hal itu menurutnya hal yang sensitif menyangkut investasi.

"Isu ini sangat sensitif karena menyangkut kepentingan negara kita terhadap negara asing, jika negara asing melihat bahwa Indonesia bisa orang di fitnah dan di proses hukum untuk justru membahayakan secara sektor investasi dan berdampak pada tenaga kerja kota," bebernya.

Lebih lanjut PT DAEH melalui kuasa hukumnya juga menegaskan bahwa pihak perusahaan tidak akan mentolerir dan akan mengambil langkah hukum terhadap penyebaran SARA. "Akan mengambil langkah hukum atas segala tindakan oknum-oknum yang berusaha memprovokasi keadaan dengan menyebarkan berita bohong dan berbau SARA," pungkasnya. (jam/ono)