Ratusan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) PMII dan sopir truk membuktikan ancamannya  ketika demo di depan kantor RU V Pertamina Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Dalam aksi demo menuntut penambahan kuota solar bersubsidi yang ketiga Rabu (30/3), massa yang turun lebih banyak, yakni menurunkan 250 truk dan ratusan orang gabungan mahaswiswa dan sopir truk.  Demo terkait susahnya mendapatkan solar di Kota Minyak kali ini dipusatkan di depan kantor Wali Kota Balikpapan yang juga di depan gedung DPRD Balikpapan.

Aksi demo datang sejak pukul 10.30 Wita hingga sore hari.  Akibatnya jaan Jenderal Sudirman mengalami kemacetan dan ada pengalihan arus lalu lintas. Ketua PMII Kaltim Zainuddin mengatakan aksi kali ini merupakan wujud kekecewaan para pendemo akibat tuntutan yang mereka sampaikan satu minggu yang lalu tidak direalisasikan oleh Pertamina.

"Dari berbagai tuntutan kami ternyata realitasnya tidak direalisasikan oleh Pemerintah Kota maupun pihak Pertamina ataupun pihak penegak hukum yang ada di Kaltim," kaya Zainuddin di lokasi demo.

Dirinya mengatakan, kelangkaan solar akibat penyalahgunaan atau tidak tepat sasaran kepada orang yang membutuhkan. Zainuddin menambahkan dari rapat dengar pendapat (RDP) antara Pertamina dengan DPR RI dua hari yang lalu, bahwa Dirut Pertamina mengatakan bahwa solar subsidi dicuri.

"Solar subsidi kita indikasinya digunakan oleh pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.  Saat ini kita sama-sama tahu saat ini Kaltim adalah lumbungnya perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara," imbuhnya.

Dia menilai kelangkaan solar bisa jadi ada penyalahgunaan atau ada dugaan dicuri oleh beberapa oknum. "Inilah yang kita sayangkan, kepolisian harusnya mengawasi. Ini sudah jelas ini bagian dari penyelewengan undang-undang," imbuhnya.

Sementara itu salah satu sopir truk Deli Wowor mengatakan para pendemo mengeluhkan antreian solar yang selama ini masih mengular di jalanan dan sering terjadi kecelakaan karena antrean truk.

"Paling cepat itu sehari semalam baru dapat soler. Paling lama bisa dua hari dua malam baru dapat. Dapatnya juga dibatasi, kami dapat Rp 500 ribu saja mentoknya atau  sekitar 80 liter," kata Deli.

Lebih lanjut Deli katakan, kali ini massa yang diturunkan lebih banyak dari sebelumnya. "Sekitar 250 sampai 300 truk, di belakang masih menyusul," imbuhnya. Lebih lanjut dia sampaikan, akan melakukan aksi lagi bila tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh pemerintah dan pihak Pertamina. "Insa Allah kita akan tetap turun ke jalan lagi," tegasnya.

Para sopir dalam mengantre solar selain mengalami kerugian waktu juga kerugian materi dan penambahan pengeluaran semakin besar termasuk makan dan minum selama antre.  Selama aksi demo, polisi dan TNI melakukan pengawalan, aksi demo pun berlangsun aman dan terkendali.  (jam/ono)