Ratusan pengemudi truk dan mahasiswa kembali menggelar unjuk rasa di depan Kantor Balaikota Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman, pada Rabu (30/3). Unjuk rasa ini akibat  kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang masih terus terjadi di Kota Balikpapan.

"Jumlah pengemudi truk yang berunjuk rasa hari ini lebih banyak dari hari sebelumnya, sesuai janji kami, kali ini ada sekitar 250 pengemudi truk," kata Sainuddin, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kaltim yang menjadi koordinator dalam aksi ini.

Ia menyampaikan, bahwa tidak dapat dipungkiri BBM sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hak hidup masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhinya.

Namun belakangan ini, lanjut Sainuddin

BBM solar yang menjadi nadi bagi transportasi angkutan barang dan jasa justru mengalami kelangkaan. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan para pengemudi truk.

Menurutnya, bagaimana mungkin pemulihan ekonomi dapat berjalan lancar apabila solar sebagai bahan bakar justru mengalami kelangkaan dan kekurangan solar, yang sebetulnya tidak hanya sekali terjadi. Tetapi persoalan ini, sudah menjadi fenomena tahunan.

"Ironisnya, kota Balikpapan lumbung minyak yang menjadi penyumbang kebutuhan bahan bakar nasional justru malah menjadi salah satu daerah yang mengalami kekurangan tersebut," terangnya.

Dia mengatakan, Pertamina RU V yang berada di Kota Balikpapan menjadi salah satu lumbung minyak dimana setiap tahunnya menyalurkan ke kawasan Indonesia Timur yang merupakan 2/3 dari NKRI dan memasok hingga 26% total kebutuhan BBM di seluruh Indonesia.

Namun mirisnya, di kota lumbung minyak ini justru malah terjadi kekurangan BMM jenis solar subsidi yang telah terjadi selama berbulan-bulan. Hal ini tentunya menjadi sebuah pertanyaan besar, bagaimana mungkin lumbung minyak dan juga kota penyangga IKN justru terdampak kekurangan solar subsidi dan harus mengantri 2 sampai 3 hari.

Terkait kekurangan minyak yang terjadi, Sainuddin menuturkan, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menduga ada industri besar yang ikut antri solar subsidi lantaran Pertamina tak becus mengurus distribusi BBM. Dugaan ini didapat karena penjualan solar nonsubsidi menurun sedangkan solar subsidi meningkat.

"Beliau juga mengungkap saat ini penjualan solar subsidi sudah meningkat menjadi 93 persen, sedangkan non subsidi hanya 7 persen. Namun berdasarkan fakta di lapangan, sepanjang kilometer 13 sampai 15 terjadi antrian panjang truk-truk besar selama berhari-hari," terangnya.

"Sulitnya mendapatkan BBM jenis solar tentunya tidak lepas dari ketidak becusan Pertamina dalam hal pendistribusian solar dan aparat penegak hukum dalam hal melakukan pengawasan dan penindakan," tuturnya.

Dirinya menambahkan, pihaknya curiga adanya indikasi mafia solar yang bermain. Sehingga, sudah seharusnya dapat diusut tuntas oleh aparat, penegak hukum serta pemerintah kota selaku pemangku kebijakan dalam hal penyaluran BBM jenis solar subsidi yang tidak tepat sasaran dan tidak sesuai peruntukan.

"Hal ini tentunya akan berdampak pada masyarakat yang terganggu dengan antrian tersebut. Sehingga persoalan ekonomi yang tersendat akibat banyaknya kendaraan besar truk yang tidak beroperasi. Belum lagi sopir-sopir truk yang terpaksa meninggalkan keluarganya lebih lama hanya untuk mengantri solar," pungkasnya.  (djo/vie)