Memasuki Bulan Suci Ramadan 1443 H, sejumlah bahan pokok di pasaran mengalami kenaikan. Baik di distributor hingga di pasar-pasar tradisional.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Arzaedi Rachman, kenaikan harga bahan pokok ini akibat kebutuhan lebih tinggi daripada penawaran.

"Logika ekonomi sederhana kan permintaan dan penawaran, masa-masa menjelang bulan puasa dan hari raya pasti kebutuhan pokok lebih tinggi, tapi penawaran atau supply barang tidak bertambah banyak," ujar Arzaedi kepada Balikpapan Pos, Jumat (8/4).

Dia menjelaskan, ketika peningkatan permintaan lebih tinggi dari penawarannya, maka harganya terdongkrak naik. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar berbelanja bijak sesuai kebutuhan saja.

Ia menuturkan, kenaikan harga bahan pokok atau inflasi ini tidak bisa dihindari sebab sifatnya alamiah. Inflasi merupakan sebuah konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi.

"Jadi kalau level inflasi itu antara 0 hingga 3 persen itu masih oke. Jadi kalau di bawah 3 persen itu masih ideal," terang Arzaedi.

Menurutnya, laju inflasi pada April 2022 ini diperkirakan pada kisaran 3 persen. Kendati demikian, lanjutnya, angka tersebut diperkirakan akan turun dan stabil pada Juli 2022. Jadi kalau Ramadan dan Idulfitri permintaan barang pasti naik, penawaran barangnya naik tapi hanya sedikit. Yang penting kenaikannya masih dalam taraf normal.

"Sayangnya disisi penawaran seringkali terjadi distorsi, sehingga mekanismenya tidak murni betul seperti apa yang diajarkan dalam ilmu ekonomi. Sehingga kadang diperlukan intervensi pemerintah untuk menjaga elastisitasnya, sehingga tidak terlalu dalam perbedaannya antara permintaan dan penawarannya,"pungkasnya. (djo/vie)