Jelang Iduladha, pedagang sapi kurban di Balikpapan sedang pusing, akibat ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang membuat mereka kesulitan menambah pasokan sapi.

Menurut penjual sapi di kawasan Kampung Timur, Gunung Samarinda, Balikpapan Utara,  Muhammad Abduh, akibat wabah PMK. Pihaknya terpaksa mendatangkan hewan ternaknya dari Kupang dan Sulawesi. Dikarenakan, sapi dari Pulau Jawa dan Bali tidak bisa menyuplai ke daerah lain.

"Semua pedagang mendatangkan sapi dari tempat sama, yakni daerah Kupang dan Sulawesi. Cuman dua tempat itu aja yang bisa menyuplai sapi ke Kota Balikpapan dan daerah lain, sehingga pasokan sapi berkurang," katanya kepada Balikpapan pos, Kamis (23/6).

Ia menjelaskan, akibat kondisi ini membuat suplai sapi ke Kota Balikpapan berkurang dan hanya kebagian sedikit. Belum lagi dirinya juga harus menambah biaya guna melakukan karantina selama dua pekan.

Dia menyampaikan, untuk kartina dua pekan itu, terlalu lama. Jadinya ada penambahan biaya. Sebab harus menyiapkan pakan untuk dibawa ke karantina.

“Jadi selain stok sapi berkurang, di sisi lain permintaan banyak. Sehingga kenaikan harga pun tak bisa lagi dihindari. Kenaikan itu berkisar antara 15 hingga 20 persen,” ujarnya.

Menurutnya, adanya wabah PMK ini, membuat harga sapi mengalami kenaikan. Tahun lalu saya menjual dengan harga Rp 17.5 juta per ekor. Namun untuk saat ini tidak bisa lagi menjual dengan harga tersebut.

"Sekarang harga terendah itu Rp18 juta perekor itupun habis diborong orang untuk berkurban di masjid. Jadi kami tidak sanggup dengan banyaknya permintaan ini. Tahun lalu bisa jual itu sebanyak 150 hingga 200 ekor sekarang gak sampai 100 ekor," terangnya.

Abduh mengaku dengan kondisi saat ini sangat berpengaruh dengan penghasilan, karena untuk menutupi biaya operasional seperti biaya sewa lahan dan lain sebagainya sangat sulit. "Belum lagi biaya pakan dan gaji karyawan. Jadi memang sangat berdampak," pungkasnya.(djo/vie)