Pemerintah Kota Balikpapan hingga saat ini masih mengedepankan upaya persuasif dalam kegiatan pengosongan lahan Rumah Sakit (RS) Balikpapan Barat. Meski saat ini masih ada beberapa warga yang masih mempertahankan bangunannya padahal telah lewat dari batas waktu pengosongan yang telah ditetapkan yakni 10 September 2022 ini.

"Tidak apa-apa, memang arahan Bapak Wali Kota, persuasif, tidak ada pembongkaran, tidak ada paksaan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Andi Sri Juliarti yang akrab disapa Dio kepada wartawan, Senin (12/9).

Ia menerangkan pihaknya bersama tim berupaya melakukan usaha persuasif supaya mereka membongkar sendiri bangunannya. Untuk saat ini, dari informasi manajemen Rumah Sakit Sayang Ibu, hanya tinggal 5 dari 17 warga yang belum mengambil santunan.

Dio menargetkan, bahwa pembangunan fisik RS Balikpapan Barat ini akan dilaksanakan pada awal tahun 2023. Karena masih menunggu proses penyelesaian pembuatan Amdal dan manajemen konstruksi (MK). Karena ada perubahan aturan. Sehingga harus ada penambahan anggaran.

"Fisiknya tahun depan, karena tidak boleh dibangun kalau Amdal dan MK belum selesai. Ada tahapan membangun rumah sakit.  Kalau masih bersengketa tentu akan ada keputusan dari pemerintah kota, karena sekarang masih berproses," tuturnya.

Dia menyampaikan, bahwa memang ada penambahan anggaran untuk pembangunan rumah sakit Balikpapan Barat, yang awalnya Rp 162 miliar menjadi Rp 191 miliar.

"Jadi terdapat penambahan sebesar Rp 29 miliar. Penambahan itu mengikuti perubahan dari Kementerian Kesehatan terkait aturan pembangunan rumah sakit. Diantaranya  penambahan ruangan ICU, termasuk pengaturan jarak tempat tidur sesuai dengan pengalaman yang terjadi pada pandemi, agar tidak dirubah-rubah lagi seperti pandemi kemarin," terangnya.

"Sehingga rencana pembangunan rumah sakit yang awalnya hanya 3 lantai diubah menjadi lima lantai, satu basement," pungkasnya.(djo/vie)