Provinsi Kaltim menduduki urutan paling tinggi di luar pulau jawa temuan kasus demam berdarah dengue (DBD). Angka penyebaran kasus DBD di Kaltim masuk dalam 10 provinsi tertinggi di Indonesia. "Kita termasuk provinsi di luar jawa yang paling tinggi. Untuk itu, saya mengimbau sesuai perintah dari Bapak Gubernur kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi agar berkoordinasi dengan dinas kesehatan di kabupaten-kota yang ada di Kaltim," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr. Jaya Mualimin kepada wartawan, Minggu (25/9).

Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, jumlah temuan kasus DBD sampai dengan pertengahan Agustus, sudah mencapai 3.034 kasus. Dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 4 orang.

Ia menjelaskan, jumlah tersebut, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yang tercatat hanya berkisar pada angka 2.900 lebih kasus. "Untuk melakukan upaya-upaya dalam pencegahan penyebaran kasus demam berdarah. Kami meminta jajaran Dinas Kesehatan Provinsi, untuk melihat kesiapan  untuk menanggulangi penyebaran demam berdarah ini," terangnya.

"Kita juga meminta kepada Dinas Kesehatan Kota, dan Pemkot Balikpapan, pemerintah juga sudah mengeluarkan surat edaran. Dalam edaran tersebut Wali Kota Balikpapan, meminta kerja bakti masal dilakukan setiap hari minggu, untuk memberantas sarang nyamuk," ujarnya.

Dia mengungkapkan, pihaknya  tidak bisa melakukan upaya tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk, dengan menjaga kondisi lingkungan agar bersih dan tidak ada lagi sarang-sarang nyamuk.

"Karena nyamuk ini hidup di lingkungan yang tidak bersih dan ada genangan air," jelas dia.

Jaya juga meminta kepada kepala dinas kesehatan di kabupaten-kota untuk menyiapkan sarana dan prasarana dalam mengobati dan merawat pasien yang terindikasi DBD. Termasuk memastikan ketersediaan stok darah ketika ada pasien yang membutuhkan transfusi.

"Kalau Balikpapan masih menduduki urutan yang paling rendah, Yang paling tinggi itu Samarinda," ujarnya.

Sementara itu, Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarti yang akrab disapa Dio menyampaikan, untuk merespon arahan dari Kepala DKK Provinsi untuk mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah, pihaknya telah melakukan beberapa hal.

Pertama adalah Pemkot Balikpapan telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota  yang ditujukan kepada lurah, camat, institusi pendidikan hingga ke tingkat RT, untuk mengaktifkan kembali kegiatan kerja bakti massal. Ditambah dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yang dilaksanakan setiap minggu.

Terkait kewaspadaan ini, Dio menambahkan, pihaknya juga sudah menyampaikan ke sejumlah rumah sakit, dan Puskesmas untuk melakukan kewaspadaan deteksi sejak dini serta sistem rujukan yang lebih baik. Termasuk juga kepada PMI, agar mulai menyiapkan stok darah khususnya trombosit.

"Kami akan mengunakan abate dan fogging. Tapi fogging itu adalah alternatif terakhir, jika memang di lokasi ditemukan jentik yang meningkat. Jadi tidak semua daerah langsung di fogging," jelasnya.

Di Kota Balikpapan saat ini, menurutnya, secara akumulatif terdapat 610 kasus DBD, dengan 2 kasus kematian dimana rentang usia anak sampai remaja. Untuk di kecamatan yang tertinggi kasus terjadi di kecamatan Balikpapan Selatan, dan yang terendah terjadi di kawasan Kecamatan Balikpapan Timur.(djo/vie)