TANJUNG REDEB – Adanya stasiun pengisian elpiji di Kampung Maluang, Gunung Tabur, jadi salah satu keuntungan untuk Berau. Sebab, jika komponen ongkos kirim bisa dipangkas, harga eceran tertinggi (HET) lebih terjangkau. “Kita tidak perlu lagi untuk mengambil elpiji dari luar daerah, sehingga ongkos lebih murah pastinya,” ujar Wakil Bupati Berau Gamalis.

Namun, untuk menentukan HET elpiji, tidak bisa diputuskan sepihak. Perlu koordinasi dengan bidang ekonomi serta organisasi perangkat daerah terkait untuk membahas hal itu. “Secepatnya kita agendakan rapat untuk membahas HET ini,” jelasnya. Terkait Surat Keputusan (SK) penyesuaian HET, juga dibahas dalam rapat. “Nanti kita rapat dan mencari solusi yang baik. Bahkan bila memang diharuskan, kita akan keluarkan SK penurunan harga itu,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua DPRD Berau Madri Pani meminta pemkab gerak cepat menerbitkan Surat Keputusan (SK) untuk menindaklanjuti SK Gubernur Kaltim yang diterbitkan sepekan lalu terkait HET baru elpiji. Sebab, dengan diresmikannya stasiun pengisian elpiji di Kampung Maluang, dapat memengaruhi harga jual lebih murah.

“Itu sangat menguntungkan kita di daerah, seharusnya segera ada kebijakan juga untuk menurunkan HET-nya, harus ada evaluasi juga. Beberapa waktu lalu harga LPG tinggi akibat ongkos pengiriman yang lumayan jauh, dan saat ini kita sudah ada pengisian dan jaraknya tidak jauh, seharusnya bisa mendapatkan harga yang lebih murah,” sambung Madri.

Dengan begitu, dirinya berharap jangan sampai keberadaan stasiun pengisian elpiji tersebut tidak memengaruhi HET. “Karena sangat sayang kita sudah ada pengisian, tetapi harga tidak turun,” tegasnya.

Karena itu, dirinya meminta Pemkab Berau harus segera mengadakan rapat, baik itu melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) atau organisasi perangkat daerah (OPD) yang sesuai tupoksinya agar bisa membuat perubahan revisi HET tersebut. (aky/ind/k16)